Kamis, 23 Oktober 2008

....
pagi puray!!!.....Semangat KP kan hari ini...

Rabu, 22 Oktober 2008

hulaaaa haluuuu puray....

Hmmm....bingung mau nulis apa????

Selasa, 14 Oktober 2008

The Night

bingung nihhh...

confused...

Kamis, 09 Oktober 2008

Part 18

Hari ini hujan turun cukup deras, namun Eals Gallery masih saja ramai
pengunjung, malah ada pengunjung setia yang setiap hari selalu saja
datang mendatangi Gallery, Mr. Hyldinc, turis asal swedia.
Sekarang beliau dan Ayah bersahabat baik. Mereka sering kali berbincang
sambil mencicipi kopi di Gallery, kata Mr. Hyldinc, Eals Gallery sangat
menarik baik dari segi bangunannya maupun kenyamanan serta apa yang
disajikan disini membuatnya betah berlama lama berada diGalleri.
Saat ini pun mereka berdua masih mengobrol sambil tertawa renyah Nathan
sungguh sangat senang bisnis keluarganya ini mulai dicintai oleh
para pengunjung.
Ia mulai berpikir ternyata kesuksesan bukan hanya dinilai dari seberapa
besar keuntungan yang bisa dicapai, namun seberapa besar kecintaan orang orang untuk apa yang
telah kita sajikan disini.
Nathan pun mulai bisa merasakan kebahagiaan pengunjung saat mereka merasa bahagia maupun ketika mereka sedang sedih dan mencari solusi kemudian menyajikan sesuatu yang bisa membuat mereka kembali nyaman dan senang. Itulah intinya!
“cklek....” suara pintu terdengar dan seorang wanita bule sambil membawa payung datang memasuki Eals Gallery.
“Welcome to Eals Gallery, Come in please!” seru Nathan kepada wanita itu yang tampaknya baru saja kehujanan
“terima kasih, maaf dimana saya bisa duduk? tampaknya tempat ini cukup ramai...” tanya wanita itu pada Nathan sambil memicingkan mata mencari meja yang kosong. Nathan sedikit terpukau dengan wanita itu ketika ia fasih berbahasa Indonesia, padahal ia mengira wanita ini berasal dari luar Indonesia. “ Woww!” kagum Nathan dalam hati.
“oh sepertinya dilantai satu memang penuh, tapi tenang kami masih memiliki ruangan yang sama di lantai dua... mari saya antar.”
“oke... terima kasih!” tutur wanita itu lembut
“....”
“silahkan, ini tempat terbaik yang kami miliki.” Jelas Nathan menunjukkan meja nomer 11
“Wow... ya ampun indah sekali.”
“yaa sambil menikmati pemandangan dari sini saya rasa anda membutuhkan handuk kecil dan secangkir Moccacinno panas, bagaimana?”
“umm... Moccacino panas? Boleh juga.” Kata wanita itu mengiyakan kata kata Nathan
“ohh... maaf satu lagi, saya yakin disini pasti menyediakan kopi hitam juga kan? Saya minta tolong satu cangkir buat saya. Trims.” Seru wanita itu
“kopi hitam? Oh iya saya akan bawakan segera. Just wait a minute.” Kata Nathan sedikit kaget ketika mengetahui seorang wanita menyukai kopi hitam yang notabene rasanya lebih pahit.

5 menit kemudian....

“Pesanan datang ...” seru Nathan. Lamunan wanita itu pun buyar
“sekaligus handuk kecil, anda bisa sambil mengeringkan rambut anda dengan ini.” Papar Nathan
“handuk?”
“ya handuk. ow... maaf sekali kami tidak mempunyai Hair Dryer, kami hanya bisa menyediakan handuk seperti ini disini. Mmm... tapi mungkin nanti kami akan sediakan hair dryer, secepatnya!”
“haha... saya ga kepikiran pake hair Dryer bahkan saya kaget ternyata di Galleri ini tersedia handuk juga buat pengunjung yang kehujanan seperti saya. Kamu ini lucu sekali. Sitta!” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya
“Nathan!” kata Nathan sambil membalas uluran tangan Sitta
“oke, kalo ada yang kurang bisa panggil saya dengan bel disitu. Permisi!” kata Nathan sambil menunjukkan tombol ditembok samping Sitta lalu meninggalkan Sitta disitu
“makasih buat handuknya yaa!” seru Sitta tapi keburu Nathan turun
“kembali kasih. Oh ya cepat di minum ya sebelum dingin!” teriak Nathan dari bawah yang tampak kembali disibukkan oleh pengunjung lain, sementara Lea turut sibuk mengantar pesanan dan mencuci cangkir cangkir dibelakang.
Karena ramai pengunjung, nathan pun harus kembali mengantar pengunjung pengunjung baru ke lantai 2 dan mengantar pesanan mereka ke lantai dua sementara Lea dan ibunya mengurusi pengunjung di lantai 1.
“hai... gimana, masih ada yang perlu saya bawa lagi?” sapa Nathan lagi dengan ramah
“ga terima kasih. Galleri makin ramai ya?”
“ya begitulah...”, tiba tiba pengunjung dipojokkan memanggil Nathan, “ tunggu bentar yaa...” ucap Nathan.
“ohh ya...”
Nathan pun menghampiri meja no 14, dan mendengarkan apa yang diminta oleh pengunjung tersebut. Dan membawakan pesanan si pengunjung. Lalu kembali menghampiri meja Sitta
“Rebess?”
“Ya rebess!!! Fiuhh, haha....” kata Nathan sambil menemani sitta ngobrol
“Sitta kamu orang mana sih? Kamu lahirnya dimana?” tanya Nathan
“saya lahir di Bali, Ayah asli Bali kalo Ibu di sebelah, Ausi.”
“ohhh gitu”

“excuse me!! Young Man!! Can ya help me a minute please?” Panggil pengunjung di meja 14
“Oh of course!, tunggu lagi yaa our customer is our king. Tunggu ya... hehe! Yeah Madam what is that?” tanya Nathan. Sitta tertawa kecil ketika melihat Nathan menuruni tangga untuk yang ketiga kalinya.
“ is there anything you need Madam?”
“Oh No... its good! Thank You very much, good boy!”
“aha. Youre welcome Madam. Bye!” ucap Nathan
“Yaa... she looks like a nice girl, huh!!”
“what? Hahaha Oh... i think so! C ya!!” seru Nathan sambil meninggalkan meja no 14, dan menuju meja no 11.
“heyy!!! Ga boleh ngelamun!”
“oh haii... engga, mmm... i just imagine it is very beautiful view from here, yeah!”
“nah akhirnya keluar juga bule nya.. hehe bercanda!”
“haha... ya kadang kadang tanpa saya sadari! Hmm... ya, saya suka banget sama suasana pada saat lagi hujan gini. Rasanya tenang banget.”
“oh ya?mmm... punya kenangan saat hujan turun? Boleh ceritakan? Please!”
“hah? Cerita? Saya ga bisa bercerita. Umm... kenapa kamu ga tambah tenaga kerja lagi, maksud saya untuk galleri berlantai 2 seperti ini...
“menurut kamu harusnya begitu ya... emang sih kita Cuma berempat disini, lagian siapa yang bisa kerja kaya gini?”
“banyak lah... kamu cari dijalan aja pasti banyak yang mau!”
“kamu bener, tapi aku ga bisa sembarangan memperkerjakan orang yang hanya sekedar mendapat gaji, bahkan dia harus mau kalo ga digaji. Karena Galleri ini tujuan utama yang sebenernya bukan nyari surplus tapi kepuasan pengunjung. Memang benar sih kami ga akan bisa berhasil meyenangkan pengunjung kalo tanpa uang, tapi sebisa mungkin kepuasan konsumen lah yang kami cari karena dari situlah uang akhirnya datang.”
“interesting.. gimana kalo saya gabung sama kalian?”
“Apa? Haha kamu bercanda?”
“apa saya terlihat sedang bercanda? hmm Saya serius!!”
“Hah? Mmm... aku ga yakin, aku ga bisa putusin sekarang minggu depan karna aku harus ngobrol sama yang lain.”
“ok... hey ini sudah malam, saya harus pulang ” kata Sitta, ”mmm hujan juga sepertinya sudah berhenti...”
“oke! Tunggu Sitta, kamu bawa payung... tapi ko bisa kehujanan ya?”
“ya ini payung baru, saya beli tadi di jalanan saat turun hujan..”
“oh i see now!”
Mereka pun menuruni tangga bersama sama. Sitta langsung menghampiri mesin kasir dan mengeluarkan secarik kertas mata uang 100 ribu rupiah dari dalam tas selempaknya. Namun Nathan menghalangi lea untuk menerima uang itu.
“gratis untuk kunjungan pertama.” Kata Nathan
“serius? Kamu pasti bercanda... maaf!”
“apa aku terlihat sedang bercanda, hmm?”
“oke... terima kasih! Daah!” ucap Sitta sambil melangkah pergi
“ya datang lagi yaa nona!” seru Nathan sambil menganggukkan kepalanya dan melihat Sitta telah benar benar keluar dari Galleri
“kenapa sih lo? Aneh banget deh!”
“harus baik baik sama pengunjung Le!”
“iya tapi ga mesti nolak pengunjung yang mau bayar tau!”
“hmm... hey kalian yakin saya ga harus bayar???” seru Sitta dari balik pintu
“oh kamu belum pergi, yaa semua baik baik saja! Gratis untuk kunjungan pertama... byee!”
“Okay, thanks! byee” Sitta pun pergi
“so tau sih lo...”
“hmm... ada yang mesti gw ajarin sama lo! Mana Ayah sama Ibu?” tanya Nathan sambil melanjutkan pekerjaannya
“tuh Ayah masih betah ngobrol sama orang swedia itu, Ibu udah duluan pulang. ‘
“udah biar gw yang dikasir lo istirahat gih. Oh haii... madam, ok desk number 14, here is ...”
“Thank you. Youre so good!”
“You’re welcome madam, come again please. Good night and just take a rest. Byee!”
“thanks. Byee!”
“oh hai sir... youre desk number please?... six! Okay here it is, you must pay...”
“Thank You very much Mr. Nathan!”
“suprisely you know my name...! thanks mr...?”
“andrew!”
“Mr. Andrew my friend! Come again please, Bye... hey wait wait! just wear youre jacket because it's cold out there. Take care...”
“yeah youre right! Cao!”
“.... what r u lookin at?” tanya Nathan pada Adiknya Lea
“... lo bahagia banget. Gara gara nona yang lo kasih gratis itu ya?”
“bukan itu, gw nemuin sesuatu yang baru disini! BIG FAMILY, HAPPY FAMILY, ngerti?” jelas Nathan. Lea geleng geleng
“para pengunjung yang kita layani itu adalah keluarga kita. Anggap seperti itu... buat mereka bahagia ditempat ini maka kamu akan tertular jadi bahagia juga dan sebaliknya. Just forget The money, The Week journal, The year Journal that is the second thing. And then they’ll come back again here just like family. Big Family! Okay!”
“lo bener! Kita ini keluarga! Satu keluarga. Uang bukan yang utama! Dan itu bisa dateng dari mana aja. Tapi masalahnya bagaimana kita bisa buat orang orang jadi bahagia ditempat ini, hmm!”
“Get The Point!”
“yeahh!!”

gundahhh....

hari ini mau KP heueheu... tatutttt!!! gimana dong??? semangadd oka dirikuuuuu!!!
itu ajahhh mariii.... deeeehhh

Rabu, 17 September 2008

Good Afternoon

new day ... new experience